Riya’ Lebih Halus Daripada Rambatan semut
Riya’ Lebih Halus Daripada Rambatan semut
Penulis: Ibnu Qudamah (Al-Imam Ahmad bin Abdurrahman)
Ketahuilah bahwa kata riya’ itu berasal
dari kata ru’yah (melihat), sedangkan sum’ah (reputasi) berasal dari
kata sami’a (mendengar).
Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.
Orang yang riya’ menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.
Riya’ itu ada yang tampak dan ada pula
yang tersembunyi. Riya’ yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan
yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya’ yang
tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi
Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan
merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan
mengerjakannya tatkala ada tamu dirumahnya.
Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang
tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah,
tetapi sekalipun begitu riya’ itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak
bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.
Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya.
Berapa banyak orang yang ikhlas
mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya’ dan bahkan
membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada
orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong
semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya’ yang tersembunyi.
Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang.
Dari sini bisa diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati,
seperti api yang tersembunyi di dalam batu.
Jika orang-orang melihatnya, maka bisa
menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada
hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat
halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak
langsung maupun secara langsung.
Kesenangan atau riya’ ini sangat
tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup
dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara
parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang
menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.
Yang lebih tersembunyi lagi ialah
menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain,
tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah
yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka
berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya,
menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat
seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.
Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa
takut terhadap riya’ yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh
orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang
disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang
menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena
mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.
Noda-noda riya’ yang tersembunyi banyak
sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang
menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada
orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada
benih-benih riya’. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan
merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.
Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr
Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”
Radliyallahu Anhu, dia berkata, “Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”
Namun jika dia ta’ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya’.
(Penulis : Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin
Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy, “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi
Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat
Petunjuk”.)
Bissmillah Thibbun Nabawi Madu Dan Herbal Klik ini



0 komentar:
Posting Komentar
Bissmillah
Selipkan lah sepatah dua patah kata yang bermakna :
dan Silahkan jika Ikhwan Wa akhwat jika ada yang hendak minta di carikan Artikel Salaf yang lainya silahkan tinggalkan Komentar disini
Insya Allah Akan Ana Bantu carikan Dengan Referiensi Salafy Laitsa Sururi Insya Allahu Ta'ala Blog ini dapat memjadikan ladang Ilmu dan Amal untuk kita agar dapat saling menasehati