Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Biarin aja, kecil-kecil nakal, besarnya jadi ‘Ulama itu


Apakah kalian pernah mengalami?
ketika masih sibuk membuka mushaf al quran di masjid tiba-tiba meluncur sebuah benda ke arah kalian. benda ini bukan sebuah peluru 7,62 mm dari senjata AK 47, bukan juga sebuah granat yang telah lepas kait pengamannya,akan tetapi sebuah sandal. sandal milik seorang anak Yaman yang sedang bermain lempar-lemparan di masjid ketika mereka sedang ada dars. kesal? marah? ingin membalas melempar mereka? sepertinya kalian harus mengurungkan niat itu,istighfar,sambil ngelus dada atau mereka akan menjadi jadi.
Apakah kalian pernah mengalami?
Ketika masih dikamar mandi umum, tiba-tiba mendarat sebuah gayung kaleng berisi air berasal dari kamar mandi sebelah,apesnya, air dalam gayung tumpah semua kebaju yang kalian pakai,tak lama setelah itu terdengar suara ketawa cekikikan anak-anak yaman. kesal? marah? mau membalas melempar mereka? yang ada hanyalah ngedumel sendiri di kamar mandi atau mereka akan menjadi jadi.
Itu hanya sedikit kisah nyata yang pernah di alami ikhwah indonesia di Ma’bar Yaman, dan masih banyak kisah kenakalan dan “kebrutalan” anak-anak Yaman, mulai dari berkelahi ketika dars Syaikh sedang berlangsung hingga memanjat atap sakan yang terbuat dari seng sambil berlari-larian layaknya selebrasi mencetak gol,terbayang sudah,betapa gaduhnya suasana yang tinggal didalam sakan.
Hukuman untuk mereka sepertinya juga tidak ringan, sebuah ‘asho yaitu tongkat kayu sebesar jempol orang dewasa yang selalu dipegang oleh mursyid. ‘asho bisa mendarat di tangan, badan dan kaki mereka, tapi tidak pernah di bagian kepala. itu kalau mereka tertangkap, kalau tidak, ya paling kejar2an sama mursyid. jangan salah,anak anak itu lebih gesit dan lincah. otomatis mereka lolos dengan mudahnya.
Pernah sekali aku merasakan ‘asho, pas itu mursyid tidak sengaja memukul, terkena telapak kakiku, rasanya…hmmm lumayan. cukuplah bikin pincang berjalan beberapa detik. entah terbuat dari kayu apa itu.
Tapi semua itu hanyalah kenakalan anak-anak, tak lebih dari perbuatan seorang manusia yang belum baligh. Yang tak ubahnya anak-anak pada umumnya,walaupun sudah berkelahi,jotos-jotosan,tendang-tendangan, kalo udah selesai ya selesai, tak terselip dendam dalam hatinya.besoknya lagi kita lihat sudah saling bercanda kembali.
Memang, mendidik anak-anak yaman perlu perlakuan “spesial” dengan sedikit ayunan ‘asho. tapi jangan heran, anak-anak yaman juga di beri kelebihan spesial, ini merupakan fadhilah dari Allah Azza wa Jalla berupa kekuatan hafalan dan kecerdasan yang luar biasa,membuat kita berdecak kagum sambil berucap “Masyaa Allaah”.
Akan banyak kalian temui anak-anak hafal al qur’an dalam waktu hitungan bulan saja. Asy Syaikh Al Imam sendiri menyelesaikan hafalan Al Quran dalam waktu 4 bulan saja,ada yang menyebutkan 6 bulan. Hanya dengan sekali berdiri, mereka bisa menyetor puluhan hadits kepada syaikh ketika dars,lengkap dengan sanadnya.Ingin mencoba mengetes hafalan ribuan syair Alfiyyah Ibnu Malik? mereka bisa membolak balik dari belakang ke depan. mumtaz !
Disebabkan keutamaan yang Allah berikan kepada Ahlul Yaman,Allah lembutkan qolbu mereka menerima kebenaran,di negeri dimana prinsip-prinsip ahlussunnah ditegakkan.
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله : أتاكم أهل اليمن, هم أرقّ أفئدة و ألين قلوبا, الإيمان يمان و الحكمة يمانية (متفق عليه)
Dari Abu huroiroh beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, Iman itu ada pada yaman, dan hikmah ada pada yaman. [ HR. Bukhari-Muslim]
Sedikit mengulang kembali kisah shahabat Rasulullah, Abu Hurairah Abdurrahman Ibnu Shakhar,beliau berasal dari kabilah Ad Daus di Yaman yang hanya bertemu dengan Rasulullah selama 4 tahun akan tetapi beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.
Dan satu hal yang tidak terlepas dari mereka sebagai seorang anak adalah fitrah. fitrah mereka yang terjaga dan masih bersih menjadi faktor pendukung yang kuat.
Mata mereka terjaga dari penglihatan yang mengundang syahwat.bagaimana tidak,jika disini seorang wanita keluar rumah tanpa cadar saja sudah dianggap aib, aib bagi agama dan kabilahnya.
Telinga mereka terjaga dari musik dan lagu-lagu ,yang sejatinya hanya melalaikan,walaupun bersyairkan islami. mereka lebih memilih hape cina dengan soundnya yang keras agar bisa mereka tenteng kemana-kemana sambil mendengarkan murottal Maher, Ghomidy, atau Sudais.
Itulah fitrah…masih bersih.
Fitrah mereka tak teracuni dengan dongeng fiktif penuh kebohongan. Dongeng khayalan yang hanya membuat anak-anak berandai-andai bisa menghilang,bisa terbang,dan bisa melakukan hal-hal ajaib lainnya. juga cerita-cerita yang tidak jelas kebenarannya. Mereka lebih tahu kisah tentang kepemimpinan Rasulullah, kisah tentang kesetiaan Shahabat Tholhah bin Ubaidillah yang rela menerima 90 tusukan dan sasaran panah demi melindungi Rosulullah pada waktu perang Uhud. Coba tanya ke mereka siapa panglima perang termuda?mereka akan menjawab Usamah bin Zaid,yang usianya belum melebihi dua puluh tahun pada waktu itu.juga mereka lebih suka kisah tentang kesabaran dan semangat ulama Baqi bin Makhlad yang rela menempuh perjalanan ke negeri Hijaz selama 20 tahun dengan berjalan kaki demi mencari ilmu syar’i.
Fitrah mereka tak terkotori dengan cerita horor dan menyeramkan yang sejatinya hanya membuat ketakutan yang dibuat-buat sendiri,yang hanya membuat paranoid kemudian menjelma menjadi bermacam-macam pikiran absurd. kejadian seseorang yang kesurupan jin disini menjadi semacam tontonan asyik buat mereka,sampai sampai Mursyid harus turun tangan untuk membubarkan mereka.setiap ada jenazah yang selesai dimandikan dan dikafani,mereka sudah menunggu diluar dan tak sabar untuk melihatnya.mereka melewati jalan ke arah markiz ratusan meter di malam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Begitulah,hingga akhirnya mereka tumbuh dewasa dengan fitrah yang masih bersih dengan bimbingan agama yang kuat. kenakalan yang dulu ada menjadi sebuah kematangan jiwa dan keberanian. kebrutalan yang dulu ada menjadi kesetiaan dan kesabaran.
Seperti tidak berlebihan ketika ada seorang ikhwah indonesia yang saking jengkelnya dengan tingkah laku anak-anak berkata dengan guyon ” biarin aja,kecil-kecil nakal,besarnya jadi ‘Ulama itu…hehee ”
Itulah FITRAH….
- Nas alullaha assalamah wal tsabaat ‘ala rosyad.
25 Ramadhan 1434H,Ba’da Shubuh di ghurfah atas masjid, Ma’bar Yaman.
Oleh Akh Gawindra
Sumber :http://adhwaus-salaf.or.id/biarin-ajakecil-kecil-nakalbesarnya-jadi-ulama-itu/#more-1439
Repost : http://tabir-salaf.blogspot.com/2013/08/biarin-aja-kecil-kecil-nakal-besarnya.html
Bissmillah Thibbun Nabawi Madu Dan Herbal Klik ini
Baca SelengkapnyaBiarin aja, kecil-kecil nakal, besarnya jadi ‘Ulama itu

Perbedaan Nabi dan Rasul “

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.
Nabi dan rasul adalah dua kata yang sering kita dapatkan dalam nash-nash syariat. Tentu sebuah kewajaran ketika muncul pertanyaan, “Adakah perbedaan antara nabi dan rasul? Apakah keduanya memiliki makna yang sama atau berbeda?” Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi dan rasul sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya dari sisi makna. Namun, pendapat ini tidak diperkuat oleh dalil. Bahkan, tampak bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak sejalan dengan pendapat ini. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.
Pendapat ini diperkuat oleh dalil-dalil yang sahih dari al-Kitab dan as-Sunnah, termasuk hadits Abu Dzar dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhuma tentang jumlah nabi dan jumlah rasul. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah setelah menyebut hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhutentang jumlah nabi dan rasul—yang telah kita bahas bersama—berkata, “Ketahuilah, hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita sebut, demikian pula hadits-hadits lain yang telah kita ketengahkan sebelumnya, semua menunjukkan adanya perbedaan antara rasul dan nabi. Perbedaan ini ditunjukkan pula oleh al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (al-Hajj : 52)
Demikian pendapat yang diikuti seluruh ahli tafsir, seperti al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir, hingga yang terakhir dari ahli tafsir, al-Imam al-Alusi rahimahumullah. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam banyak fatwa beliau. Beliau berkata,
“Semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.” (lihat Majmu Fatawa [10/ 209] dan [18/7]) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata bahwa al-Mahdawi menyatakan, “Inilah yang benar, seluruh rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul.” (Tafsir al-Qurthubi [12/80])
Perbedaan antara Nabi dan Rasul
Mayoritas ulama menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul, sebagaimana pembahasan di atas. Tetapi, mengenai letak perbedaan antara nabi dan rasul, ada beberapa pendapat sebagai berikut.
1. Rasul adalah orang yang diturunkan kepadanya wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia. Adapun nabi, mereka adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat, namun tidak diperintah untuk menyampaikannya.
2. Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat baru. Adapun nabi diutus dengan membawa syariat rasul sebelumnya. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa nabi dan rasul diperintahkan menyampaikan syariat kepada umatnya.
3. Rasul adalah orang yang mendapatkan kitab dan syariat tersendiri (baru). Adapun nabi tidak diturunkan padanya kitab, tetapi menyeru kepada syariat rasul sebelumnya.
Masih ada pendapat lain di kalangan ulama, kita cukupkan tiga pendapat di atas. Dari sekian pendapat para ulama, guru kami, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullahmengatakan, “Mengenai perbedaan antara nabi dan rasul, yang masyhur (selama ini) bahwa nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia. Adapun rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan. Namun, terdapat dalil yang menunjukkan tidak benarnya pendapat ini… Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat. Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah. (al-Maidah: 44)
Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi bani Israil setelah Musa ‘Alaihissalam berhukum dengan Taurat dan menyeru manusia (berpegang dengan) Taurat. Atas dasar (ayat) ini, bisa kita katakan tentang perbedaan antara nabi dan rasul, bahwasanya rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diturunkan kepadanya al-Kitab. Adapun nabi, ia adalah orang yang mendapatkan wahyu untuk menyampaikan risalah rasul sebelumnya. Pendapat inilah yang sesuai dengan dalil-dalil…. (diringkas dari Qathfu Jana ad-Dani hlm. 110)
Nabi dan Rasul adalah Laki-Laki Merdeka
Nabi dan rasul semua adalah laki laki merdeka dan bukan budak. Tidak ada seorang nabi pun dari kalangan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui. (al-Anbiya: 7)
Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ
Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkata, “Dalam ayat yang mulia ini ada keterangan bahwasanya rasul-rasul yang diutus oleh Allah l itu berasal dari kalangan laki-laki, bukan perempuan. Sebab, lelaki lebih sempurna daripada kaum perempuan.” (Majmu Rasail asy- Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad [1/250])
Sebagian manusia beranggapan bahwa Sarah istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Maryam binti Imran adalah para nabi. Mereka berdalil bahwasanya malaikat Allah Subhanahu wata’alamemberikan kabar gembira kepada Sarah akan kelahiran Ishaq. Demikian pula malaikat memberikan kabar gembira kepada Maryam akan kelahiran Isa. Mereka berdalil pula dengan firman Allah Subhanahu wata’ala tentang ibu Nabi Musa ‘Alaihissalam,
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Kami ilhamkan kepada ibu Musa, Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya,hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (al-Qashash: 7)
Namun, semua dalil tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka adalah nabi. Wahyu yang dikatakan dalam kisah ibu Musa adalah ilham, sebagaimana Allah Subhanahu wata’alamemberikan wahyu kepada lebah, yakni ilham. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang diyakini Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan ini pula yang dinukilkan oleh asy-Syaikh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il al-Asy’ari, tidak ada seorang nabi pun dari kaum wanita. Yang ada adalah shiddiqah(derajat tertinggi di bawah nabi dan rasul, -pen.). Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang Maryam binti Imran dalam firman-Nya,
مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ
Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang shiddiqah (yang sangat benar), keduanya biasa memakanmakanan. (al-Maidah: 75) (Tafsir Ibnu Katsir)
Nuh ‘Alaihissalam, Rasul yang Pertama
Di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya. (an-Nisa: 163)
Lebih tegas dari ayat di atas adalah hadits syafaat yang panjang dalam Shahih Muslim, ketika manusia dikumpulkan di Mahsyar. Mereka berkata kepada Nuh ‘Alaihissalam, “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama.”
Adakah Nabi dan Rasul dari Kalangan Jin?
Jumhur ( mayoritas ) ulama berpendapat tidak ada nabi dan rasul dari kalangan jin, semua dari kalangan manusia. Demikian pendapat sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Di antara dalil jumhur adalah firman Allah Subhanahu wata’ala
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ
Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia…. (al-Hajj: 75)
Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’alal tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam,
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَDan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub, serta Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya. (al-Ankabut: 27)
Ulama mengatakan, berdasarkan ayat ini, semua nabi yang diutus setelah Ibrahim adalah dari keturunan beliau. Telah dimaklumi bahwa jin bukan dari keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam. Demikianlah pendapat jumhur dan beberapa dalil yang mereka bawakan. Sebagian ulama berpendapat bahwa bisa jadi ada nabi dan rasul dari kalangan jin. Ada pula sekelompok ulama yang tawaqquf (tidak memberikan pendapat) dalam masalah ini, tidak menetapkan tidak pula meniadakan. Wallahu taala alam.Buah Mengimani Nabi dan RasulIman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala membuahkan berbagai faedah yang agung, di antaranya:
1. Bertambahnya keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta kepada-Nya ketikamenyaksikan betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya.Allah Subhanahu wata’alamengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dua negeri: dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wata’ala tidak membiarkan manusia hidup sia-sia dan terbengkalai.
2. Dengan beriman kepada rasul, seseorang akan menyaksikan betapa agungnya hikmah AllahSubhanahu wata’ala.Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan syariat berupa perintah, larangan, atau hukum yang sesuai dengan keadaan setiap umat.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim: 4)
3. Iman kepada para rasul mendorong setiap insan untuk sering memuji Allah Subhanahu wata’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang sangat agung.
4. Iman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala adalah sebab yang mengantarkanseseorang ke dalam jannah, karena Allah Subhanahu wata’ala akan mengumpulkan seseorangbersama yang dicintainya.
Seandainya seseorang jujur dalam mencintai para nabi dan rasul, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan kumpulkan bersama mereka. Dalam hadits, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّSeseorang akan bersama dengan yang dicintainya.
Sumber :http://asysyariah.com/kajian-utama-perbedaan-nabi-dan-rasul.html
Bissmillah Thibbun Nabawi Madu Dan Herbal Klik ini
Baca SelengkapnyaPerbedaan Nabi dan Rasul “

About

Copyright© All Rights Reserved by Tabir-Salaf : Manhaj yang selamat